Kamis, 27 Desember 2012

Pi Hongyan Pahlawan Prancis Kini Gantung Raket

                 Beberapa waktu yang lalu, Bintang Bulutangkis Perancis, Pi Hongyan datang ke Stade Pierre de Coubertin untuk menyaksikan pertandingan bulutangkis Perancis Terbuka. Pi, dikonfirmasi bahwa hari sabtu mendatang, ia akan diberikan sebuah penghargaan oleh pihak Bulutangkis Perancis atas dedikasi besarnya.
Bagi kita, ketika mendengar nama Mohamed, kebanyakan anda pasti berpikiran bahwa itu adalah orang Arab, tapi bisa jadi ia datang dari Malaysia. Atau ketika anda melihat nama Spanyol, belum tentu ia berasal dari Spanyol, bisa jadi ia orang Amerika Latin atau Filipina. Hal yang sama juga berlaku untuk China, belum tentu nama-nama Mandarin berasal dari Negeri Tirau Bambu itu, bisa jadi Perancis akan menjadi kebangsaan orang itu.
Ialah Pi Hongyan, yang akhirnya menetapkan hatinya untuk berlabuh di Perancis karena menganggap negeri asalnya, China tidak akan memberinya kesempatan untuk berkembang.
Terbukti, dukungan Bulutangkis Perancis membuahkan hasil yang bisa dibilang memuaskan. Pi bisa dibilang pioner terbesar buat Bulutangkis Perancis, namun sayangnya ia juga yang menjadi satu-satunya pemain berbendera Perancis yang bisa berkibar. Kini ia akan segera mengumumkan untuk pensiun, bagaimana ia dan Bulutangkis Perancis kedepannya?

Pi Hongyan memasuki dunia Bulutangkis tahun 1992 di usia 13 tahun dimana saat itu ia memasuki Tim Bulutangkis Provinsi Shicuan. Dua tahun berkiprah, namanya masuk ke Tim Nasional China tahun 1995. Sampai akhir 1999, namanya sulit bersaing dengan rekan senegaranya saat itu, sehingga ia pun memutuskan untuk berlatih di Denmark.
Alasan ia disia-siakan dan dianggap tidak bisa berprestasi dunia karena badannya termasuk pendek untuk ukuran pemain Cina. Posturnya hanya 164 cm. ”Tubuh saya yang kecil dinilai menjadi penghalang prestasi. Padahal, saya bermimpi menjadi pemain terbaik dunia,” sebutnya.
Di Denmark, ia masuk ke klub Greve, meskipun saat itu ia tidak bisa berbahasa Inggris. Setahun setelah di Denmark, ia beralih ke Perancis. Mewakili Negeri indah itu, Pi sudah langsung menunjukkan perkembangan positif dengan menjuarai beberapa turnamen level Eropa, seperti Jerman, Swiss dan Portugal.
Setelah dua tahun, Pi akhirnya resmi berbendera Perancis. Berbagai gelar diraihnya, dan yang menurut gue paling mengesankan adalah lolosnya Pi ke Final All England 2007. Di babak Semifinal kala itu, ia mengalahkan Zhang Ning lewat skor yang ketat 21-18, 23-21, 24-22 dalam 74 menit. Ia menjadi wanita pertama Perancis yang mampu mencapai Babak Final turnamen paling prestisius itu.
”Ini kemenangan paling mengagumkan buat saya. Saya bermain dengan sabar. Meskipun di gim kedua saya kalah, saya tetap fokus dan bekerja keras di gim ketiga,” tutur Pi saat itu. Kemungkinan faktor kekalahannya atas Xie Xingfang di Final adalah stamina, karena memang pertarungan melawan Zhang Ning menjadi pertarungan yang sangat melelahkan. ”Saya memang merasa sangat capek, namun sangat menggembirakan bisa mengalahkan Zhang Ning,” tambahnya.

Prestasi Pi mewakili Perancis itu sempat membuat ia, keluarga dan teman-temannya di China kini bangga mengelu-elukannya. “Setiap kali saya pulang ke China, saya amat gembira karena banyak orang yang mengelu-elukan saya,” kata Pi disela-sela turnamen Piala Sudirman tahun lalu.
Sampai hari ini, Pia tidak pernah menyesal atas keputusannya berpindah kewarganegaraan, karena ia tahu bahwa di Perancis peluangnya lebih besar. “Saya tidak pernah menyesal atas keputusan saya, karena saya tahu saya tidak punya peluang di China,” katanya.
“Bila saya tinggal di China, mungkin sekarang saya sudah punya bayi dan melakukan pekerjaan lain. Saya kira saya memiliki keberuntungan lain untuk bermain bulu tangkis di Perancis,”  tambahnya.


Pi-oner
Pi bisa dibilang sosok fenomenal di Perancis.Pendukungnya di Perancis selalu memadati Stade Pierre de Coubertin setiap turnamen Perancis Terbuka yang diikutinya, apalagi di tahun 2007 lalu, dimana Pi sukses melaju ke babak Final, saat itu tiket stadion terjual habis.
Saat itu di Babak Semifinal, Pi menunjukkan permainan yang agresif melawan Zhang Ning hingga sukses menang 21-19, 21-19. Sayang pada babak Final, Pi Hongyan harus gagal di tangan Xie Xingfang dengan skor sama 13-21, 13-21. Saat itu Xie bermain sangat bagus, jarang melakukan kesalahan dan serangan yang cepat menjadi alasan ia meraih kemenangan di Final lima tahun lalu.

Pi sempat diharapkan mengulang kemenanangannya atas Zhang Ning itu di Olimpiade Beijing 2008. Sayangnya, di Perempat Final Olimpiade Beijing, ia hanya sempat merepotkan Zhang Ning yang pada akhirnya menang dengan skor 21-8, 19-21, 21-19.
Disaat Paris ditunjuk sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia tahun 2010 lalu, andalan tuan rumah, Pi Hongyan yang tahun sebelumnya berhasil meraih medali perunggu di Paris ingin meraih medali yang lain. Di Perempat Final Kejuaraan Dunia itu, Pi Hongyan disaksikan oleh isi stadion yang penuh dengan penonton, bahkan tiket terjual habis. Sayang, penonton harus melihat kegagalan Pi Hongyan di tangan Wang Xin dengan skor 13-21, 15-21.
Meskipun ia pioner, tapi kini Perancis sedang dirundung duka karena Pi Hongyan akan segera pensiun. Bukan karena pensiunnya sih, tapi karena Perancis kini belum memiliki calon kuat penerus Pi Hongyan. Berbeda dengan Jerman yang sempat dihuni oleh pemain China, Xu Huaiwen yang telah menyerahkan tongkat estafet di tangan Juliane Schenk seusai pensiun.


Harapan Pi usai Pensiun

Seusai Pensiun, Pi Hongyan berencana untuk menjadi pelatih di negaranya itu, makanya ia kemungkinan akan menetap di Perancis dan hidup dengan orang Perancis yang menjadi suaminya. “Saya ingin menjadi pelatih, mungkin juga berkarya dalam pengembangan bulutangkis. Mungkin saya akan tetap tinggal di Perancis dan saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan di sana,” ujar Pi.
Selain itu, harapan Pi buat Bulutangkis Eropa secara umum adalah tetap bisa menyaingi Asia. Ia memang sedikit pesimis akan hal itu, karena para pemain Eropa cenderung sudah mapan di usia yang sudah tidak muda lagi, sementara para pemain Asia, terutama pemain China sudah mulai mendominasi sejak usia muda.
“Untuk sektor tunggal putri, menurut saya Eropa tidak memiliki pemain muda sebanyak yang dimiliki Asia. Ada Carolina (Marin) yang penampilannya sudah cukup baik ketika menginjak usia 17 tahun, tetapi kebanyakan pemain Eropa baru terjun ke dunia profesional setelah mereka berusia 20 tahun dan bahkan penampilannya baru kelihatan mapan ketika berusia 25 tahun. Penyebabnya, menurut saya itu terjadi karena pada masa sekolah mereka tidak memiliki waktu dan energi yang cukup untuk bermain bulutangkis. Dan itulah yang terjadi di Eropa, kita tidak dapat meminta mereka untuk meninggalkan bangku studi – kecuali mereka sendiri yang memutuskannya,” begitu ucap Pi Hongyan.
Meskipun ia pesimis, ia juga berkata tidak ada yang tidak mungkin, hanya perlu waktu untuk bisa bersinar. “Saya rasa ketika mereka sudah siap dan begitu waktunya tiba, mereka dapat mengalahkan pemain Cina. Mereka harus yakin bahwa mereka mampu melakukannya. Mungkin pemain putri yang dapat mencapai level permaianan tingkat atas jumlahnya tidak banyak. Tapi saya yakin akan selalu muncul orang-orang seperti Camilla Martin, Tine Baun, Juliane Schenk, dan Petya Nedelcheva yang mampu memberikan perlawanan,” tambah Pi.

0 komentar:

Poskan Komentar